TRADISI UPACARA NGABEN DI KAWASAN BINTANG DANU KECAMATAN KINTAMANI DALAM STUDI KOMPARATIF ANTARA BALI AGA DAN BALI MAJAPAHIT
DOI:
https://doi.org/10.32795/076fh987Keywords:
Upacara Ngaben, Studi Komparatif, Bali Aga Dan BaliAbstract
Upacara Ngaben atau disebut juga upacara Pelebon merupakan salah satu upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu yang memiliki arti melebur, yaitu kembalinya raga (stula sarira) kepada Panca Maha Bhuta (lima unsur dasar yang menyusun mikrokosmos/manusia). Pelaksanaan upacara ngaben pada masyarakat Hindu, khususnya di Bali memiliki keunikan tersendiri, sebab masing-masing masyarakat adat memiliki perbedaan dalam memaknai ngaben , termasuk masyarakat kawasan bintang danu kecamatan kintamani yang memiliki perspektif tersendiri. Hasil karya ilmiah ini berdasarkan Penelitian dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Adapun objek penelitian ini terletak di desa kawasan bintang danu kecamatan kintamani. Fokus dari penelitian ini adalah mengenai fenomena upacara Ngaben yang dilaksanakan oleh masyarakat adat di kecamatan Kintamani yang termasuk dalam masyarakat Bali Aga yang dipercaya merupakan suku asli Bali yang mendiami wilayah Bali sebelum kedatangan suku Bali Majapahit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pelaksanaan upacara ngaben pada masyarakat Bali Majapahit dilakukan melalui tradisi pembakaran jenazah. Sedangkan pada masyarakat Bali Aga, khususnya di desa Kawasan bintang danu tidak selalu dilakukan dengan mengadakan prosesi pembakaran jenazah, melainkan dengan melakukan prosesi penguburan mayat. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Kintamani bahwa melebur atau penduduk lokal menyebutnya dengan istilah ‘ngelebur’ memiliki esensi bahwa melalui prosesi penguburan jenazah, pada akhirnya tetap akan mengembalikan raga kepada Panca Maha Bhuta.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan dan persamaan tradisi upacara ngaben di kawasan bintang danu, kecamatan kintamani, dengan fokus pada perbandingan antara tradisi Bali Aga dan Bali Majapahit. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam aspek ritual, simbolik, dan struktur sosial. Bali Aga cenderung mempertahankan tradisi yang lebih sederhana dan bersifat lokal, sementara Bali Majapahit menunjukkan kompleksitas ritual yang lebih tinggi dengan pengaruh Hindu-Jawa. Namun, keduanya memiliki kesamaan dalam tujuan utama yaitu penyucian roh dan pengembalian unsur tubuh ke alam.
Downloads
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 I Nengah Artawan, A.A. Dwi Dirgantini, Ida Ayu Putu Sari, Kadek Wulan Puspita Dewi Nengah

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.








