PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL JAWA DALAM TATA RUANG KRATON YOGYAKARTA
DOI:
https://doi.org/10.32795/hfmdhk28Keywords:
interaksi, toleransi, preservasi, restorasi, adaptasi.Abstract
Keraton Yogyakarta terbangun lengkap tahun 1926, hingga kini masih bertahan - berfungsi baik (fungsi asal dan objek wisata). Ruang-ruang utamanya bergaya Arsitektur Jawa serasi dengan ruang-ruang pendukungnya bergaya Arsitektur Eropa. Tujuan studi mengungkap Kearifan Lokal Jawa pada tatanan ruang Kraton Yogyakarta, mendeskripsikan elemen-elemen arsitektur signifikan untuk dilestarikan dan mendeskrisikan konsep pelestariannya. Metoda studi adalah deskriptif-eksplanatif, dengan pendekatan Budaya Jawa-Arsitektur-Pelestarian. Kearifan Lokal Jawa “kesatuan interaksi alam-sosial-spiritual” dan “budaya toleransi” mendasari tata ruang Kraton. Wujud kesatuan interaksi alam-sosial-spiritual berupa tata ruang Kraton berporos Sumbu Filosofis (garis lurus dari Tugu Pal Putih - Alun-alun - Kraton - Panggung Krapyak), posisi bangsal Sitihinggil di bagian muka, dan ruang-ruang utama pola terbuka-memusat (atap tajuk, dekorasi terpusat). Di dalam bangsal Sitihinggil Sultan bermeditasi (menatap Tugu Pal Putih), memimpin upacara Kraton, dan menerima keluhan rakyat (duduk di pusat Alun-alun Utara). Wujud Budaya toleransi berupa dua gaya arsitektur (Tradisional Jawa - Eropa) dalam satu bangunan, dekorasi ruang utama bermotif budaya Jawa-Islam-Budha, dan sarana dialog sultan - rakyatnya. Konsep pelestarian: Preservasi tata ruang Kraton simetri Sumbu Filosofis; Preservasi-perawatan rutin bangunan (tata ruang, atap, plafon, balok tumpangsari, talang, jendela, tiang-tiang, dekorasi-ornamen); Restorasi Alun-alun Utara (pasir-rumput, pohon sekeliling).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Sustainable, Planning and Culture (SPACE) : Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
