AGAMA DAN FENOMENA KEGILAAN

  • I Wayan Budi Utama UNIVERSITAS HINDU INDONESIA DENPASAR
  • I Gusti Agung Paramita UNIVERSITAS HINDU INDONESIA DENPASAR
Keywords: agama, kegilaan

Abstract

Agama sebenarnya memiliki wajah Janus (ganda), di satu sisi agama bisa berwajah keras dan seringkali menimbulkan banyak korban jiwa. Hal ini terjadi ketika agama digunakan sebagai alat pembenar terhadap tindakan kekerasan oleh kelompok tertentu untuk meniadakan kelompok lain yang berbeda. Di sisi lain agama memiliki wajah melankolis sebagai sesuatu yang sejuk mendamaikan. Dalam hal ini agama sering digunakan sebagai penyembuh terhadap “kegilaan” yang terjadi dalam masyarakat. Di Bali agama menjadi penyembuh terhadap mereka yang mengalami keguncangan jiwa misalnya melalui “malukat” atau “mebayuh”. Agama memberi jalan bagi penebusan dosa seperti dalam upacara “guru piduka”. Agama juga menetralisir mereka yang mengalami trance (kerauhan) pada saat ritual di Pura di Bali. Peristiwa tersebut tadi dalam pandangan psikologi dianggap sedang mengalami “kegilaan”. Tulisan ini menjelaskan peran agama sebagai penyembuh dalam masyarakat Hindu di Bali. Pengumpulan data diakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis dan paparan data dilakukan dengan deskriptif interpretatif, melalui pendekatan sosiologi agama. 

Published
2018-04-02
How to Cite
[1]
I. W. Budi Utama and I. G. A. Paramita, “AGAMA DAN FENOMENA KEGILAAN”, vw, vol. 1, no. 1, pp. 107-113, Apr. 2018.