TRADISI NYEPEG SAMPI DALAM UPACARA PECARUAN USABA KAWULU DESA ADAT ASAK KABUPATEN KARANGASEM

Authors

  • I Nyoman Sudanta Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya Universitas Hindu Indonesia
  • Ni Putu Seni Maya Yuniasih Fakultas Ilmu Agama, Seni dan Budaya Universitas Hindu Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.32795/ec3j2x37

Keywords:

Nyepeg sampi, pecaruan usaba kawulu

Abstract

Artikel ini mengkaji Tradisi Nyepeg Sampi dalam upacara Pecaruan Usaba Kawulu Desa Adat Asak Kabupaten Karangasem. Nyepeg Sampi merupakan tradisi yang tergolong ke dalam upacara Bhuta Yadnya. Upacara Bhuta Yadnya bertujuan untuk menetralisir kekuatan negatif atau nyomia bhuta kala. Selain memiliki fungsi menetralisir kekuatan negatif di desa Adat Asak, Pecaruan Nyepeg Sampi juga dihubungkan dengan ritus Durga. Nyepeg Sampi juga dikategorikan ke dalam Tawur Balik Sumpah karena menggunakan korban sapi. Kriteria sapi yang digunakan dalam Tradisi Nyepeg Sampi begitu juga tata cara pelaksanaannya pun tidak boleh sembarangan. Sapi yang digunakan harus sapi hitam pejantan, tidak boleh cacat, tata cara pelaksanaannya pun diatur dalam lontar yang disucikan oleh masyarakat desa setempat.

References

Anto Rusdi, (2018). Teori-teori Sosiologi hukum Fungsional Struktural. https://www.researchgate.net/publication/326610706_Teori- teori_Sosiologi_hukum_Fungsional_Struktural.

Asmarani Oktaria (2020). Kurban Hewan Dalam Upacara Yadnya; Membunuh Atau Memukiakan? Jurnal Filsafat, ISSN: 0853-1870.

Darmayasa. (2008). Keagungan Sapi Menurut Weda. Denpasar : Manik Geni. Djaya Ristia Tika. (2020). Makna Tradisi Tedhak Siten Pada Masyarakat Kendal:

Sebuah Analisis Fenomenologis Alfred Schutz. Intelektiva : Jurnal

Ekonomi, Sosial & Humanior. E-ISSN 2628-5661 VOL. 01 NO.06. 30/01/2020.

Jirzanah, (2008). Aktualisasi Pemahaman Nilai Menurut Max Scheler Bagi Masa Depan Bangsa Indonesia. Jurnal Filsafat Vol.18,Nomor 1.

Kusumayuda. (2020). Tradisi Nyepeg Sampi Dalam Perspektif Hukum dan Kebudayaan.

Larry,Jodog,Santosa, (2016). Nilai Interaksi Simbol Tradisi Dalam Wujud

Pelinggih Pada Ruang Publik. Panggung Vol. 26 No. 1, Maret 2016.

Lilik Ariani. (2017). Tradisi Magebeg-Gebeg Godel Serangkaian Hari Raya Nyepi Di Desa Pakraman Dharmaja Tukad Mungga Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng. (Persepektif Pendidikan Teo-Etika). Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya Volume 1 Nomor 2, 2017, 44-45.

Martha & Wijaya (2019). Upacara Macaru Sanak Magodel Di Sasih Kesanga Desa Adat Abiantuwung Tabanan. Vidya Wertta. Vol. 2 Nomor 1, April 2019

Naba & Paramita, (2021). Nilai Filosofis Dan Etika Dalam Lontar Tattwa Kala.

CARAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.

Nova Agus, (2020). Upacara Pecaruan Dalam Eksistensi Agama Hindu (Bentuk, Fungsi, Makna). Vol. 1, No. 1, Juni 2020 ISSN: 2722-6638.

Nugrahani Farida, (2014). Metode Penelitian Kualitatif Dalam Penelitian Pendidikan Bahasa.

Sadini Riska, (2014). Manajemen Data Sistem Informasi Bebantenan Bagian Banten/Upakara Berbasis Web. Merpati VOL. 2, NO. 3, DESEMBER 2014 ISSN: 2252-3006.

Suastini, (2021). Tinjauan Bentuk, Fungsi dan Makna Upacara Mecaru Panyeeb Brahma di Desa Bantiran, Kecamatan pupuaan, Kabupaten Tabanan. Jurnal Widya Sastra Pendidikan Agama Hindu, Vol 4, No. 1, 2021 ISSN: 2656-7466.

Wiana, (2012). Caru Adalah Memaknai Ruang Dan Waktu.

Wijaya, (2019). Upacara Mecaru Sanak Magodel di Sasih Kesanga Desa Adat Abiantuwung Kec.Kediri, Kab. Tabanan.

Wirawan Indra, (2021). Teo-Estetika-Filosofis Topeng Sidakarya Dalam Praktik Keberagamaan Hindu Di Bali. MUDRA Jurnal Seni Budaya Volume 36, Nomor 2, Mei 2021 p 232.

Yusuf M. dan Ali Mursyid Azisi, (2020). Upacara Bhuta Yadnya Sebagai Ajang Pelestarian Alam. Relegi : Jurnal Studi Agama-Agama. http://ejournal.uin- suka.ac.id/ushuluddin/Religi/article/view/2278.

Downloads

Published

2025-05-31

How to Cite

[1]
“TRADISI NYEPEG SAMPI DALAM UPACARA PECARUAN USABA KAWULU DESA ADAT ASAK KABUPATEN KARANGASEM”, vw, vol. 8, no. 1, pp. 43–56, May 2025, doi: 10.32795/ec3j2x37.