EKSPRESI RWA BHINEDA DALAM TARI KREASI PALEGONGAN PREMAŚĀPA BALINGKANG: KAJIAN FILOSOFIS-RELIGIUS
DOI:
https://doi.org/10.32795/x3d2wj85Keywords:
Tari Kreasi Palegongan, Premaśāpa Balingkang, Rwa BhinedaAbstract
Perkembangan tari kreasi Palegongan menunjukkan dinamika yang erat antara kontinuitas tradisi dan inovasi artistik dalam konteks budaya Bali. Palegongan pada mulanya menampilkan struktur gerak yang sangat terikat pada kaidah estetika klasik, seperti ketepatan teknik, kehalusan ekspresi, serta keterpaduan dengan iringan Gamelan. Dalam perkembangannya, terjadi proses rekonstruksi dan revitalisasi yang berupaya mendokumentasikan sekaligus mengadaptasi bentuk-bentuk Legong agar tetap relevan dalam konteks pertunjukan modern. Transformasi ini kemudian membuka ruang bagi lahirnya tari kreasi Palegongan, yakni bentuk tari yang tetap berpijak pada teknik gerak Legong, tetapi lebih fleksibel dalam eksplorasi tema, struktur dramatik, serta komposisi koreografi. Perkembangan tersebut semakin mengarah pada eksplorasi konseptual yang tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi juga kedalaman makna filosofis. Salah satu karya tariadalah Tari Kreasi Palegongan Premaśāpa Balingkang yang memperlihatkan bagaimana tari kreasi Palegongan mampu menjadi medium artikulasi gagasan kosmologis, seperti konsep dualitas Rwa Bhineda, melalui pengolahan karakter, dinamika gerak, serta dramaturgi yang kompleks. Meskipun demikian, tantangan yang muncul adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara inovasi dan pelestarian nilai-nilai filosofis yang menjadi roh dari tari tersebut.Rwa Bhineda tidak dipahami sebagai pertentangan, melainkan sebagai harmoni yang saling melengkapi. Hal ini tampak dalam kontras gerak lembut dan tegas, karakter tokoh yang merepresentasikan cinta sekaligus kutukan, serta simbolisme warna dan topeng figur Barong Landung yang menegaskan keseimbangan kosmologis. Pesan filosofis yang terkandung adalah pengingat akan konsekuensi spiritual dari pelanggaran janji suci, sekaligus refleksi bahwa kehidupan manusia selalu berada dalam keseimbangan antara dua kutub yang berbeda. Pesan religiusnya menekankan pentingnya menjaga harmoni kosmis sesuai ajaran Hindu Bali. Dengan demikian, Tari Palegongan Premaśāpa Balingkang tidak hanya menjadi media ekspresi artistik, tetapi juga sarana pendidikan budaya dan spiritualitas. Pesan ini tercermin jelas dalam hasil kajian, yakni bahwa ekspresi Rwa Bhineda dalam tari kreasi ini merupakan bentuk refleksi filosofis-religius masyarakat Bali dalam memahami keseimbangan hidup.
Downloads
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Putu Setyarini

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.








